jump to navigation

Dari Kak Seto: “Jangan pernah bermimpi punya anak penurut” Oktober 15, 2008

Posted by amidawibowo in Curhat.
Tags:
trackback

Tadi pagi, saya nonton perbincangan dengan Kak Seto di TV 7. Menarik banget. Awalnya adalah perbincangan tentang kasus seorang anak yang baru kelas 2 SD mencoba bunuh diri karena sepeda barunya rusak, dan dia ketakutan dimarahi orang tuanya. Miris banget mendengarnya. Sampai sedemikiannya stress pada anak, ya.

Menurut kak Seto, kasus seperti ini sebetulnya jaman dulu juga pernah ada. Hanya saja, kasusnya tidak diekspos besar2an oleh media seperti saat ini. Saran dari Kak Seto, demi kebaikan si anak, sebaiknya janganlah kasus ini diekspos terlalu besar, apalagi sampai nama anak itu disebut2 di media massa. Pasca trauma begini, sebaiknya anak ditangani oleh psikolog, tidak lagi diungkit2 tentang masalah ini, & anak dikembalikan lagi ke dunianya… dunia bermain anak-anak.

Lalu, kenapa sih sampai anak stress dan depresi begini? Seringkali anak2 banyak mendapat tekanan, harus selalu nurut, kalau enggak dimarahi. Ditambah lagi, pendidikan sekarang ini yg lebih banyak tekanan pada kognitif daripada emotional. Orang tua lebih sering bertanya masalah nilai matematikanya gimana, IPA-nya gimana, nilai ini gimana, nilai itu gimana. Beban pelajaran di sekolah, pe-er ini itu. Belum lagi pengaruh media, sinetron, film, yg banyak kekerasan… yang bisa mempengaruhi si anak.

Menurut Kak Seto, orang tua jangan pernah bermimpi punya anak penurut. Tapi bermimpilah punya anak yang bisa diajak bekerjasama. Orang tua jangan hanya tanya nilai dan nilai mata pelajaran di sekolah. Tapi…. tanyalah perasaan si anak. Gimana perasaan di sekolah, senang nggak sekolahnya. Perasaannya pada Ibu, pada Ayah. Apakah Ibunya terlalu cerewet, atau galak… Ayahnya bagaimana…. Faktor emosi anak harus diapresiasi.

Memang sih, kadang orang tua sudah capek bekerja seharian, ketemu anaknya bandel, gak nurut. Duh, repot banget.  Tapi ya itulah, kalau gak mau repot jangan jadi orang tua. Resiko menjadi orang tua jangan dianggap sebagai pengorbanan, tapi anggaplah sebagai ibadah.

Bagaimanapun, memang ada aturan yang harus diterapkan pada anak. Nah, gimana caranya menerapkan aturan itu? Ini dia tips dari Kak Seto:

  • Aturan harus dicontohkan oleh orang tuanya pada anak. Kalau kita menyuruh anak rajin sholat, ortunya juga harus rajin sholat dong.
  • Membimbing anak dengan kasih sayang.
  • Anak boleh keliru, untuk kemudian diperbaiki kekeliruan itu.
  • Menjalin komunikasi yang baik dengan si anak. Salah satunya mungkin yg diajarkan oleh orang tua kita jaman dulu, yaitu kebisaan mendongeng. Mendongeng boleh diteruskan, karena di sini ada sentuhan emosi antara ortu dan si anak. Daripada membiarkan anak duduk diam di depan televisi nonton film.

Lalu, gimana sih ngelihat tanda2 anak depresi? Menurut Kak Seto, sederhana, lihat saja wajahnya. Kalau wajahnya tegang, menerawang, hampa, nah… ini dia kita musti waspada. Orang tua musti bisa menciptakan suasana yang penuh humor. Yang bisa membuat anak tertawa. Jangan terus tegang & kaku.

Ini dia dua tips dari Kak Seto untuk orang tua untuk menghindari jangan sampai anak depresi:

  • Orang tua harus bisa menjadi pendengar yang baik
  • Tetap win-win solution, cari jalan tengah bila ada permasalahan dengan anak.

Thanks a lot Kak Seto!

Komentar»

1. Datyo - Oktober 17, 2008

Artikel yang sangat bagus sekali…salam kenal bu…

2. amidawibowo - Oktober 17, 2008

Salam kenal juga…

3. ama - November 14, 2008

wow…u article sangat menarik sbg pembelajaran buat ortu bahwa anak itu bukan miniatur orang dewasa, tapi dia adalah sosok dg keingintahuan yg tinggi melalui dengan menghabiskan hampir seluruh waktunnya untuk bermain. oki, ajarlah dg kasih sayang dg mempertimbangkan aspek2 psikologis dg tetap manjaga keamanan dan rasa nyaman. sukses

4. ama - November 14, 2008

wow…u article sangat menarik sbg pembelajaran buat ortu bahwa anak itu bukan miniatur orang dewasa, tapi dia adalah sosok dg keingintahuan yg tinggi dengan menghabiskan hampir seluruh waktunnya untuk bermain. oki, ajarlah dg kasih sayang dg mempertimbangkan aspek2 psikologis dg tetap manjaga keamanan dan rasa nyaman. sukses

5. ade - Juni 11, 2010

artikelnya bagus..
thx infonya

6. Rheza - Juni 20, 2012

Artikelnya bagus. Saya setuju, sekarang zaman IT dan era Reformasi di Indonesia dimana demokrasi digadang2 sebagai yang terbaik di dunia, maka jangan pernah mimpi punya anak penurut zaman sekarang ini. Ingat! Kita tidak hidup di masa dimana orang tualah satu2nya sumber informasi dan bukan zamannya Perang Dingin lagi. Ngedidik anak itu pake kasih sayang, didiklah anak TANPA MARAH-MARAH!! MERDEKA ANAK INDONESIA!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: